MEN-SUBJEK-KAN MASYARAKAT PERBATASAN: TELAAH ATAS PERAN MEDIA BARU DI WILAYAH PERBATASAN INDONESIA

PUJI RIANTO

Abstract


Media baru yang mengaburkan batas antara penerima dan pemroduksi pesan menawarkan peluang bagi representasi yang lebih luas masyarakat perbatasan. Ini karena-melalui media baru-masyarakat perbatasan dapat menampilkan diri secara terbuka tanpa terkendala oleh para gate keeper media massa. Dengan begitu, mereka bisa menjadi subjek bagi dirinya sendiri dengan tampil melalui blog, facebook, twitter, dan sebagainya. Namun, persoalannya bahwa masyarakat perbatasan menghadapi kelangkaan infrastruktur dan kurangnya literasi media. Akibatnya, mereka lebih sering menjadi objek dibandingkan sebagai subjek. Tulisan ini didasarkan atas observasi dan penelitian yang penulis lakukan pada 2012 dan 2016 yang dibiayai oleh LPP RRI di wilayah perbatasan (Batam, Entikong, Nunukan, Jayapura, dan Atambua). Selama penelitian tersebut, temuan-temuan di lapangan menemukan bahwa masyarakat perbatasan termajinalkan dari sisi komunikasi. Mereka tidak terepresentasikan dengan baik sebagai subjek warga negara. Langkanya infrastruktur membuat akses mereka terhadap media terbatas. Sebaliknya, mereka lebih banyak mendapatkan informasi dari negara tetangga, terutama Malaysia dan Timor Leste. Keberadaan media baru jelas memberikan peluang yang sangat besar untuk menjadikan masyarakat perbatasan sebagai subjek. Di beberapa perbatasan, teknologi internet telah diakses dengan baik. Namun, infastruktur lainnya dan pendidikan kurang pendukung. Oleh karena itu, perlu pembangunan infrastruktur, sarana pendidikan, dan literasi digital. Tanpa itu, masyarakat perbatasan akan tetap menjadi objek dalam dunia komunikasi yang semakin global.
Kata Kunci: subjek, media baru, masyarakat perbatasan

References


Bermejo, Fernando (2009). “Audience Manufacture in Historical Perspective: From Broadcasting to Google, New Media & Society, Sage Publication, hal. 133-154

Burke, Peter (2011). Sejarah dan Teori Sosial. terjemahan Mestika Zed dan Zulfami. Jakarta: Yayasan Obor

Hartley, John (2010). Communication, Cultural, and Media Studies: Konsep Kunci, Yogyakarta: Jalasutra

Keller, Annet (2009). Tantangan dari Dalam: Otonomi Redaksi di 4 Media Cetak Nasional (Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, dan Republika), Jakarta: FES

Lister, Martin; John Dovey, Seth Giddings, Iain Grant & Kieran Kelly (2009). New Media: Critical Introduction. second edition. London and New York: Routledge

McChesney, Robert W., (2000). Rich Media, Poor Democracy: Communication in Dubious Times, New York: The New Press

Rianto, Puji; Wisnu Martha Adiputra, Anna Susilaningtyas, Rahayu, Novi Kurnia, Intania P, Maulin Niam, Ayya Sofia (2014). Peran LPP RRI dalam Mengonstruksikan Identitas Nasional Indonesia di Wilayah Perbatasan, Jakarta: Puslitbangdiklat LPP RRI

Rianto, Puji (2011). “ICTs: Keterbukaan Informasi dan Tantangan Baru bagi Pemerintah”. Dalam S Arifianto (ed.). Membangun Keterbukaan Informasi Publik Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta: Puslitbangdiklat Aplikasi Informatika

Shoemaker, Pamela J. & Stephen D. Reese (1996). Mediating the Message: Theories of Influences on Mass Media Content. Second Edition. New York: Longman

Stephen H Chaffee dan Mirriam J. Metzger, (2001). “The End of Mass Communication?” Mass Communication & Society, 2001, 4(4), 365-379


Full Text: PDF